Sains dan Teknologi

Senin, 09 Mei 2011

Dapatkan segera Rp 200.000 dengan Hanya Mengklik Iklan Gambar ini





Amerika,Kembalikan Identitas Islamku!!





Seminggu setelah perayaan besar-besaran, terutama di Amerika, atas kematian Osama bin Laden, saatnya semua pihak mulai berpikir lebih jernih: Apakah dunia akan lebih aman setelah Osama dibunuh? Apakah Amerika mulai lebih ramah kepada warganya yang muslim? Sudah kah pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara yang berafiliasi dengannya dimana umat Islam berdomisili memberikan kebebasan atas hak dan kewajiban muslim terhadap syariat agamanya?

Pertanyaan mengenai masa depan dunia setelah Osama meninggal adalah pertanyaan semua orang saat ini. Dan, jawaban atas pertanyaan itu haruslah jelas, tidak abu-abu, agar kita bisa menakar kehidupan selanjutnya,sekali lagi tidak ada tawar menawar: bertambah baik atau buruk?

Sayangnya, jawaban yang bisa diberikan mungkin tidak akan sebaik yang kita inginkan. Dunia belum tentu akan bertambah baik, sepanjang akar dari masalah munculnya radikalisme dan terorisme tak terselesaikan.

Ketidakadilan dan ketimpangan pembangunan ekonomi global adalah dua soal yang menjadi penyebab munculnya kelompok radikal. Apabila kedua masalah ini masih berlangsung seperti saat ini, mudah untuk diperkirakan dunia belum akan aman.Bahkan yang ada kesemuan belaka. Keadilan semu!!!

Sepanjang Amerika masih menerapkan politik invasinya terhadap negara-negara kecil atau negara yang dianggap representasi dunia Islam, yang berseberangan dengannya dalam "perang melawan teroris global",mudah untuk meramalkan akan muncul kelompok penentangnya dan itu tak harus selalu Al Qaeda.

Bahkan otoritas keamanan Amerika sendiri meyakini hal ini. Seperti ditulis Huffingtonpost.com, pihak keamanan Amerika percaya kelompok-kelompok yang lebih kecil dan tak terkait langsung dengan Al Qaeda bisa menjadi ancaman keamanan negara itu saat ini.

Di Indonesia sendiri sudah terbukti adanya kelompok yang lebih kecil dan melakukan teror secara mandiri. Memang rangkaian serentetan teror bom yang terjadi di tanah air tidak lah seluruhnya terkait dengan jaringan Al Qaeda,itu hanyalah konsumsi media konvesional dalam membangun opini tentang Islam agar lebih buruk.

Dan yang lebih penting lagi adalah apakah Amerika masih akan menganggap warga negaranya sendiri yang beragama Islam sebagai warga yang patut dicurigai sebagai teroris, paling tidak simpatisan teroris, dan karenanya diperlakukan tidak sebagaimana mestinya? Bahkan berbau rasisme.

Sepuluh tahun lamanya, warga muslim Amerika menerima perlakuan seperti itu, maka tak heran seorang warga Amerika keturanan Palestina bernama Linda Sarsour menulis di Twitternya, seperti dikutip Huffingtonpost dari Associated Press: "Osama bin Laden sudah meninggal. Bagus, sekarang kembalikan identitas (Islam) saya."

Sarsour mewakili perasaan semua muslim Amerika yang selama ini terpaksa menyembunyikan identitasnya karena takut dicap teroris atau mendukung teroris.

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar. (QS. 25:52)

Merangkai kata dengan CINTA......dunia akan semakin berarti untuk diraih

Sumber : Inilah.com dengan sedikit penambahan

Sabtu, 07 Mei 2011

Dapatkan segera Rp 200.000 dengan Hanya Mengklik Iklan Gambar ini



Kemampuan Menulis Wacana Deskripsi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan dinamika pembangunan nasional yang kian pesat menuntut adanya tenaga terampil dan professional sebagai modal utama dan mendasar. Di tengah-tengah pembicaraan mengenai sumber daya manusia yang berkualitas semakin marak dan menghambat,masyarakat kemudian mempertanyakan eksistensi dunia pendidikan sebagai lembaga penghasil sumber daya manusia. Sebagai lembaga penghasil sumber daya manusia disemua jenjang pendidikan formal,maka sudah seharusnya siswa menguasai dan dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteksnya. Penggunaan bahasa Indonesia seperti itu melalui keterampilan menulis.

Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dimiliki oleh siswa menengah. Keterampilan menulis tersebut diperlukan untuk kepentingan siswa,baik dalam ujian akhir maupun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pada jenjang sekolah yang lebih tinggi,kemampuan menulis diperlukan untuk membuat laporan,makalah,skripsi,juga untuk ujian akhir semester.

Adanya pemahaman bahwa keterampilan menulis itu penting untuk dikuasai,maka diperlukan usaha pembelajaran menulis yang terencana. Syafi ie (1998: 42) mengemukakan bahwa menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Orang yang mempunyai bakat menulis,tentu orang yang dapat menggunakan itu semua akan menjadi penulis yang baik. Orang yang tidak mempunyai bakat menulis tetapi mau belajar untuk menulis sungguh-sungguh serta mendapat kesempatan belajar dan berlatih,tentu akan dapat juga menjadi penulis.

Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) SMA (Depdiknas 2006) dijelaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia disajikan dalam tiga komponen yaitu: komponen pembahasan,pemahaman,dan penggunaan. Komponen kebahasan mencakup lafal,ejaan,dan tanda baca,struktur bahasa,kosa kata,alinea atau paragraph dan wacana yang lebih besar.

Merujuk pada uraian kurikulum 2006 di atas,peneliti tertarik memilih salah satu komponen keterampilan berbahasa yaitu menulis wacana khususnya wacana deskripsi yang merupakan bidang kajian dari keterampilan menulis. Dalam menulis deskripsi yang merupakan bidang kajian dari keterampilan menulis. Dalam menulis deskripsi mempunyai hubungan antara bentuk-bentuk tulisan (Retorika) yang lain,ia tidak pernah berdiri sendiri sebagai bentuk karangan yang bulat dan utuh.

SMA Negeri 3 Bau-Bau merupakan salah satu SMA di Kota Bau-Bau yang belum diketahui tingkat kemampuan menulis wacana deskripsi. Oleh karena itu,ada motivasi dan keinginan dari penulis untuk meneliti tentang kemampuan menulis wacana deskripsi khususnya pada kelas X1 di SMA Negeri 3 Bau-Bau.

B. Identifikasi

Berdasarkan latar belakang di atas maka identifikasi masalah tersebut yaitu kemampuan menulis merupakan hasil dari kemampuan berbahasa lainnya yakni kemampuan menyimak,berbicara dan membaca. Dalam menulis komponen tersebut menjadi dasar agar dapat menulis dengan baik. Komponen pemahaman mencakup gagasan,pendapat,pengalaman,pesan,dan perasaan yang dilukiskan atau ditulis,serta mengapresiasikan karya sastra Indonesia maupun terjemahan dan saduran. Komponen penggunaan mencakup aspek berbicara dan menulis yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan gagasan,pendapat,pengalaman,pesan dan perasaan. Oleh karena itu,mempelajari bahasa bukan hanya untuk memperoleh pemahaman mengenai bentuk kalimat yang yang bagaimana yang cocok dalam sebuah konteks tertentu.

C. Batasan Masalah

1. Kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan siswa kelas X1 SMA Negeri 3 Bau Bau menulis wacana deskripsi.

2. Menulis adalah keseluruhan kegiatan siswa kelas X1 SMA Negeri 3 Bau Bau menggunakan bahasa Indonesia tulis dalam mengungkapkan ide,pikiran,perasaan, atau pengalaman dalam bentuk karangan atau wacana deskripsi utuh.

3. Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap yang diwujudkan dalam bentuk karangan atau bacaan utuh.

4. Wacana deskripsi adalah suatu tulisan atau karangan yang menggambarkan sebuah objek tentang seseorang,tempat atau pemandangan secara terperinci,sistematis dan logis sehingga pembaca seakan-akan melihat,mendengar atau merasakan sendiri objek tersebut.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas,maka masalah dalam penelitian ini adalah :

“ Bagaimanakah kemampuan menulis wacana deskripsi siswa kelas X1 SMA Negeri 3 Bau Bau Tahun Pelajaran 2009?”

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan menulis wacana deskripsi siswa kelas X1 Negeri 3 Bau Bau Tahun Pelajaran 2009.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memberikan informasi aktual mengenai kemampuan siswa dalam menulis wacana deskripsi.

2. Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan dalam upaya meningkatkan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah.

3. Sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Menulis Wacana Deskripsi

Deskripsi atau pemborian merupakan bentuk tulisan yang berkaitan dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dan objek yang dibicarakan. Kata deskripsi berasal dari kata latin “Describere” yang berarti menulis tentang atau membeberkan suatu hal. Sebaiknya kata deskripsi dapat diterjemahkan pomoria,yang berasal dari kata peri-memerikan yang berarti melukiskan sesuatu hal (koraf,1982: 93,Marwoto,1987: 26)

Pengertian menulis tentang sesuatu hal membeberkan sesuatu sebenarnya dapat pula berlaku bagi bentuk tulisan lainnya,yaitu eksposisi (pemaparan),argumentasi (pembuktian) dan narasi (pengisahan),namun sebagai salah satu dari ke empat tulisan itu,istilah deskripsi mengandung aspek-aspek yang jauh lebih kompleks disbanding dengan ketiga bentuk lainnya.

Koraf (1997: 135) mengatakan bahwa wacana deksripsi adalah suatu bentuk wacana deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan sejelas-jelasnya suatu objek sehingga itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca. Sedangkan menurut DjajaSudarma (2006: 11) mengatakan bahwa wacana deskripsi merupakan rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan,baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Dalam menulis wacana deskripsi penulis memindahkan kesannya,memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada pembaca,menyampaikan sifat dan semua perincian-perincian wujud yang dapat ditemukan pada objek tersebut. Sasaran yang dicapai oleh penulis deskripsi adalah untuk menciptakan atau memungkinkan tercapainya daya khayal (imajinasi) pada pembaca,seolah-olah mereka melihat sendiri objek tadi secara keseluruhan seperti yang dialami secara fisik oleh penulisnya.

Dari uraian di atas,dapat dikemukakan bahwa menulis wacana deskripsi diartikan sebagai wacana yang dapat membangkitkan kesan atau improsi seseorang melalui uraian atau lukisan tertentu. Kesan tertentu itu berupa seseorang,tempat,suatu pemandangan dan serupa dengan itu. Jadi wacana deskripsi adalah suatu bentuk tulisan yang bertalian dengan objek yang sedang dibicarakan atau sedang memberikan penjelasan,dan rincian terstruktur dengan mengikuti model tata penglihatan berupa bentuk dan ruang (Dalam Ahmad,1999: 144).

B. Ciri-ciri Wacana Deskripsi

a. Ciri-ciri Khusus Wacana Deskripsi

Menurut Parera dan Tasai, (1995: 106) wacana deskripsi memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

1. Tujuan yang memberi gambaran tentang keadaan suatu objek,biasanya berhubungan dengan perasaan.

2. Kata-kata yang digunakan menimbulkan perasaan yang diinginkan,keindahan,kecantikan,kemarahan,suasana gembira ria dan sebagainya.

3. Banyak menggunakan bahasa kajian atau bahasa figuratif dan pada bahasa yang paling luas.

b. Ciri-ciri umum Wacana Deskripsi

1. Dapat berupa rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur

2. Mengungkapkan suatu hal (subjek)

3. Penyajiannya teratur,sistematis,kohoren,lengkap dengan situasi pendukungnya.

4. Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian (Syamsudin dkk,1997: 10).

c. Jenis-jenis Wacana Deskripsi

a. Wacana deksripsi orang

Beberapa aspek yang layak di deksripsikan :

a) Keadaan baik

b) Deksripsi keadaan sekitar

c) Deskripsi watak atau langkah perbuatan

d) Deskripsi gagasan tokoh

b. Wacana Deskripsi Tempat

Dalam memilih cara yang paling baik untuk melukiskan tempat pertimbangan beberapa pokok persoalan untuk menyusun wacana deskripsi : (1) suasana hati,(2) bagian yang relevan,(3) urutan penyajian.

C. Teori-teori Wacana Deskripsi

a. Menurut Moeliono,dkk,(1998: 34) wacana adalah apa disebut rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna serasi diantara kalimat-kalimat itu.

b. Menurut Richard,dkk (1998: 84) wacana dikatakan pula sebagai salah satu istilah umum dalam contoh pemakaian bahasa,yakni bahasa yang dihasilkan oleh tindak komunikasi

c. Menurut Tarigan,dkk (1987: 27) wacana adalah suatu bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau khusus dengan koheverensi atau kohesi tinggi yang berkesinambungan.

d. Menurut Keraf (1997: 135) mengatakan bahwa wacana deskripsi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan sejelas-jelasnya suatu objek sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca.

e. Menurut Djajasudarma (2006: 11) mengatakan bahwa wacana deskripsi merupakan rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu,baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya.

BAB III

POPULASI DAN SAMPEL

A. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X1 SMA Negeri 3 Bau Bau yang terdaftar pada Tahun Pelajaran 2009. Data siswa kelas X1 SMA Negeri 3 Bau Bau Tahun Pelajaran 2009 berjumlah 36 orang.

Mengingat populasi penelitian ini hanya berjumlah 36 orang maka sebanyak 36 orang tersebut ditetapkan sebagai sampel penelitian atau menggunakan sampel total. Dengan demikian,penelitian termasuk penelitian terhadap sampel.

B. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada kantor SMA Negeri 3 Bau Bau,Kabupaten Buton karena pelaksanaan administrasi pendidikan pada sekolah ini berpusat pada kantor SMA Negeri 3 Bau Bau yang ke-3 di Sultra. Lulusan SMA Negeri 3 Bau Bau dapat bersaing dengan SMA yang lain baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Pelaksanaan administrasi pendidikan sekolah ini dapat menjadi patokan pelaksanaan administrasi pendidikan di SMA lainnya,baik SMA negeri maupun SMA swasta.

Jumat, 06 Mei 2011

Dapatkan segera Rp 200.000 dengan Hanya Mengklik Iklan Gambar ini




Bimbingan Karir Dengan Sistem Paket

1. Pengantar

Dalam usaha memantapkan bimbingan di sekolah-sekolah berbagai usaha telah diselenggarakan para ahli kita terutama dalam mewujudkan peranan bimbingan yang lebih bermakna bagi anak didik. Konsep Bimbingan Karir dengan sistem paket atau modul pada awalnya dirancang dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip Bimbingan Karir,tugas-tugas perkembangan,prinsip-prinsip perkembangan anak yang dikembangkan oleh Pieget,dan berpegang dengan pendekatan “developmental”.

Maka dari itu pelaksanaan Bimbingan karir di sekolah hendaknya bukan hanya dilaksanakan di SMTA saja tetapi mulai sedini mungkin dengan perhatian dan perkembangan sikap,kemampuan dan kompetensi yang diperlukan di dalam pengambilan suatu keputusan,dan memilih alternatif,dimulai dari situasi sehari-hari sampai kepada pemilihan karir. Karena pemilihan karir yang akan diambil oleh seseorang bersangkut paut dengan karir membawa efek yang berpengaruh dan mendalam kepada kehidupan seseorang maka pendekatan segi “developmental” akan melibatkan anak dalam proses Bimbingan Karir sedini mungkin yaitu dari SD sampai SMTA.

Paket atau modul yang telah disusun dan dikembangkan itu menitikberatkan pada empat masalah pokok,yaitu:

(1) Pemahaman Diri

(2) Pemahaman Lingkungan

(3) Mengatasi Hambatan,dan

(4) Menentukan Masa Depan.

Bertolak dari empat masalah pokok tersebut kemudian dikembangkan lima paket atau modul untuk tingkat SMP dan SMA,yaitu:

(1) Paket I : Pemahaman Diri

(2) Paket II : Nilai-nilai

(3) Paket III : Pemahaman Lingkungan

(4) Paket IV : Hambatan dan Mengatasi Lingkungan

(5) Paket V : Merencanakan Masa Depan.

II. Peranan Guru Pembimbing Dalam Pelaksanaan Bimbingan Karir Dengan Sistem Paket

Guru pembimbing atau fasilitator berperan aktif dalam mengatur dan membimbing siswa agar segala kegiatan yang ditugaskan kepadanya dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Peranan guru pembimbing atau fasilitator dalam pengajaran Bimbingan Karir system paket,beberapa diantaranya:

1. Memberikan informasi secara singkat dan jelas tentang topik/subtopic yang dibicarakan dalam paket.

2. Mengatur pelaksanaan kegiatan yang diintruksikan dalam paket.

3. Mengawasi dan membimbing kegiatan siswa.

4. Memimpin dan mengawasi kegiatan diskusi kelompok.

5. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan dalam segala bentuk kegiatan misalnya: Format lembaran kerja,buku-buku biografi orang berkarir,majalah,Koran-koran,kertas-kertas,gunting,buku-buku acuan,buku klasifikasi jabatan,buku penuntun jabatan,dan sebagainya.

6. Mengadakan pendekatan dengan instansi-instansi pemerintah/swasta dalam rangka mengadakan kegiatan observasi. Misalnya: mengirimkan surat permohonan kepada Rektor/Dekan berkenaan dengan para siswa mengadakan observasi ke perguruan tinggi.

7. Menyimpan hasil-hasil kegiatan atau laporan kegiatan siswa baik kelas maupun di luar kelas.

8. Dan peranan-peranan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan Bimbingan Karir di kelas maupun di luar sekolah.

III. Materi Paket Bimbingan Belajar

Dari lima topik Bimbingan Karir tersebut dibagi lagi menjadi sub-sub topic. Sebagai bahan informasi materi pokok dari masing-masing topik dan sub topik Bimbingan Karir dengan system paket,diuraikan sebagai berikut:

1. Paket I : Pemahaman Diri

(a) Pengantar pemahaman diri

(b) Bakat,potensi,dan kemampuan

(c) Minat.

(d) Cita-cita atau gaya hidup.

2. Paket II : Nilai-nilai

Terdiri dari sub topik sebagai berikut:

(a) Nilai-nilai kehidupan.

(b) Saling mengenal dengan nilai orang lain.

(c) Pertentangan nilai-nilai dalam diri sendiri.

(d) Pertentangan nilai-nilai sendiri dengan orang lain.

(e) Nilai-nilai yang berlantai dengan kelompok atau masyarakat,dan

(f) Bertindak atas nilai-nilai sendiri.

3. Paket III : Pemahaman Lingkungan

Terdiri dari sub topik sebagai berikut:

(a) Informasi pendidikan.

(b) Kekayaan daerah dan pengembangannya.

(c) Informasi jabatan.

4. Paket IV : Hambatan dan Mengatasi Hambatan

Terdiri dari sub topik sebagai berikut,diantaranya:

(a) Faktor pribadi

(b) Faktor lingkungan.

(c) Manusia dan hambatan.

(d) Cara-cara mengatasi hambatan.

5. Paket V : Merencanakan Masa Depan

Terdiri dari beberapa sub topik,diantaranya:

(a) Menyusun informasi diri.

(b) Mengelola informasi diri.

(c) Mempertimbangkan alternative.

(d) Keputusan dan rencana.

(e) Merencanakan masa depan.