Sains dan Teknologi

Rabu, 06 April 2011

Lupa Daratan

Laki-laki ini sangat memprihatinkan kondisinya di dalam penjara yang berhawa pengap,juga gelap,mata lebam,sekujur tubuh dipenuhi bekas siksaan. Dia barusan mengalami penyaksikan, di interogasi beberapa petugas berbadan tegap. Ruangan tempat interogasi yang sempit juga agak gelap menghalangi pandangan untuk melihat muka2 yang menginterogasinya. Yang dia lakukan Cuma merintih,menahan sakit akibat disiksa untuk memintai sebuah jawaban yang ada hubungannya dengan aktivis kemahasiswaan yang dia lakukan dalam menyuarakan ketidakadilan oleh pemerintah Orde Baru. Dia masih ingat ucapan salah seorang petugas yang menginterogasinya,dengan nada mengancam “ MESKI TUHAN YANG MENENTUKAN AJAL MANUSIA,TAPI SAYA BISA MENGAMBIL NYAWAMU SAAT INI JUGA!!!!Kontan sang aktivis itu kian takut dan gemetar akan nasibnya.

Itulah sepenggal kisah yang aku baca di majalah terkemuka GATRA tahun 1998 saat berhembusnya reformasi. Siapakah sang aktifis tersebut? Dia nggak lain adalah Pius Lustilanang. Salah satu korban penculikan aktifis yang konon dilakukan oleh satuan elite TNI AD. Bersama puluhan aktivis lainnya yang ikut diculik karena menentang pemerintahan Presiden Soeharto. Karena pemberitaan media yang begitu ramai yang memojokkan pemerintah juga desakan dari publik akan nasib aktivis yang diculik tersebut. Aklhirnya Pius Lustilanang beserta aktifis lainnya yang diculik muncul dan ditemukan begitu saja oleh polisi sama saat mereka diculik.

Eiiittt……..itu dulu,kini setelah 13 tahun reformasi,banyak aktivis reformasi yang duduk di duduk di DPR termasuk Pius Lustilanang.Menjadi wakil rakyat yang terhormat. Setelah merasakan “empuknya” kursi jadi anggota dewan Pius Lustilanang seakan lupa akan komitmennya memperjuangkan nasib rakyat semasa jadi aktivis mahasiswa. Apa pasal,Pius begitu ngototnya memperjuangkan pembangunan gedung baru DPR yang super “wah” itu. Padahal sebagai wakil ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT)DPR,seharusnya menolak rencana pembangunan gedung DPR. Seperti ucapan Martin Hutabarat Ketua DPP partai Gerindra secara tegas kepada Pius Lustilanang, “Tugas kamu sebagai wakil ketua BURT adalah menggagalkan rencanan pembangunan gedung baru”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar